Kamis, 22 Februari 2018

MAKALAH MEMBANGUN MENTAL GENERASI OLAH RAGA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kata Globalisasi berasal dari bahasa inggris, yaitu Globalization yang merupakan gabungan dari kata global yang berarti mendunia sedangkan lization yang berarti proses. Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya. Menurut Achmad Suparman, globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Menurut Edison A. Jamli, globalisasi ditandai oleh ambivalensi yaitu berada pada kebingungan, tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain dan tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya.
Globalisasi yang kian hari semakin memanas, memiliki dampak yang sangat signifikan dan sangat berpengaruh terhadap lingkungan kita. Seperti halnya yang kita ketahui perubahan cuaca yang sangat ekstrim terjadi disebabkan karena globalisasi. Sikap manusia yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar adalah penyebab awal meluasnya dampak globalisasi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap perkembangan mental generasi muda di Indonesia?
2.      Mengapa terjadi globalisasi terhadap perkembangan mental generasi muda di Indonesia?
3.      Bagaimana antisipasi pengaruh globalisasi terhadap perkembangan mental generasi muda di Indonesia?


C.    Tujuan Masalah
1.      Menjelaskan pengaruh globalisasi terhadap perkembangan mental generasi muda di Indonesia.
2.      Menjelaskan terjadi globalisasi terhadap perkembangan mental generasi muda di Indonesia.
3.      Mengetahui dan diterapkan antisipasi untuk pengaruh globalisasi terhadap perkembangan mental generasi muda di Indonesia.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Mental Generasi Muda
   Arus globalisasi yang begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda ini membawa pengaruh yang cukup kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak kalangan muda kehilangan kepribadian dan jati diri mereka sebagai bagian dari bangsa Indonesia.  Kehilangannya mental kepribadian dan jati diri ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja-remaja yang berdandan berlebihan yang cenderung mengarah ke budaya barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahannya yang memperlihatkan bentuk lekuk tubuh yang seharusnya tidak untuk diperlihatkan. Cara berpakaian tersebut sebenarnya bukan cara berpakaian yang sesuai dengan kebudayaan kita, itu sangat melenceng jauh dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan pula gaya rambut yang dicat dengan beraneka warna. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Ditambah dengan berkembangnya teknologi di Indonesia yang memiliki dampak positif dan dampak negatif juga bagi remaja. Teknologi internet contohnya, teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi secara luas dan tanpa batas dan juga dapat diakses oleh siapa aja dan dimana saja. Dan sudah bukan hal yang mustahil juga bagi kalangan remaja, ini sudah menjadi santapan mereka sehari-hari. Jika digunakan dengan semestinya tentu memperoleh dampak positif dan manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak digunakan dengan semestinya ini berarti berdampak negatif dan akan mendapatkan kerugian juga. Sekarang ini banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan internet dengan tidak semestinya. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi berkurang karena mereka lebih memilih sibuk dengan gadget mereka masing-masing. Dilihat dari sikap, banyak anak muda sekarang yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka tanpa memperdulikan orang lain di sekitar mereka. Contohnya adalah adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang mengganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

B.     Perkembangan Psikososial pada Remaja
Masa remaja adalah masa yang ditandai oleh adanya perkembangan yang pesat dari aspek biologik, psikologik, dan juga sosialnya. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya berbagai dishamornisasi yang membutuhkan penyimbangan sehingga remaja dapat mencapai taraf perkembangan psikososial yang matang dan adekuat sesuai dengan tingkat usianya. Kondisi ini sangat bervariasi antar remaja dan menunjukan perbedaan yang bersifat individual, sehingga setiap remaja diharapkan mampu menyesuaikan diri mereka dengan tuntutan lingkungan.
Ada tiga faktor yang berperan dalam hal tersebut, yaitu;
  • Faktor individu, yaitu kematangan otak dan konstitusi genetik (antara lain temperamen)
  • Faktor pola asuh orangtua di masa anak dan pra-remaja.
  • Faktor lingkungan, yaitu kehidupan keluarga, budaya lokal, dan budaya asing.
Setiap remaja sebenarnya memiliki potensi untuk dapat mencapai kematangan kepribadian yang memungkinkan mereka dapat menghadapi tantangan hidup secara wajar di dalam lingkungannya, namun potensi ini tentunya tidak akan berkembang dengan optimal jika tidak ditunjang oleh faktor fisik dan faktor lingkungan yang memadai.

C.    Perubahan Psikoseksual
        Produksi hormon testosteron dan estrogen mempengaruhi fungsi otak, emosi, dorongan seks dan perilaku remaja. Selain timbulnya dorongan seksual yang merupakan manifestasi langsung dari pengaruh hormon tersebut, dapat juga terjadi modifikasi dari dorongan seksual itu dan menjelma dalam bentuk pemujaan terhadap tokoh-tokoh olahraga, musik, penyanyi, bintang film, pahlawan, dan sebagainya.
Remaja sangat sensitif terhadap pandangan teman sebaya sehingga ia seringkali membandingkan dirinya dengan remaja lain yang sebaya, bila dirinya secara jasmani berbeda dengan teman sebayanya maka hal ini dapat memicu terjadinya peraaan malu atau rendah diri.


D.    Pengaruh Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya mempunyai peran dan pengaruh yang besar terhadap kehidupan seorang remaja. Interaksi sosial dan afilasi teman sebaya mempunyai peranan yang besar dalam mendorong terbentuknya berbagai keterampilan sosial. Bagi remaja, rumah adalah landasan dasar sedangkan dunianya adalah sekolah. Pada fase perkembangan remaja, anak tidak saja mengagumi orangtuanya, tetapi juga mengagumi figur-figur di luar lingkungan rumah, seperti teman sebaya, guru, orangtua temannya, olahragawan, dsb. Dengan demikian, bagi remaja hubungan yang terpenting bagi diri   mereka  selain orangtua adalah teman-teman sebaya dan seminatnya. Remaja mencoba untuk bersikap independent dari keluarganya akibat peran teman sebayanya. Di lain pihak, pengaruh dan interaksi teman sebaya juga dapat memicu timbulnya perilaku antisosial, seperti mencuri, melanggar hak orang lain, serta membolos, dsb.
E.     Perilaku Berisiko Tinggi
Remaja kerap hubungan berbagai perilaku berisiko tinggi sebagai tahun dikatakan pernah menunjukan perilaku berisiko tinggi minimal satu kali dalam periode tersebut, seperti berkelakuan buruk di sekolah, penyalahgunaan zat, serta perilaku antisosial (mencuri, berkelahi, atau bolos) dan dari 50% remaja tersebut juga menunjukan adanya perilaku berisiko tinggi lainnya seperti mengemudi dalam keadaan mabuk, melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, dan perilaku kriminal yang bersifat minor. Dalam suatu penelitian menunjukan bahwa 50% remaja pernah menggunakan merijuana, 65% remaja merokok, dan 82% pernah mencoba menggunakan alkohol. Dengan melakukan perbuatan tersebut, mereka mengatakan bahwa mereka merasa lebih dapat diterima, menjadi pusat perhatian oleh kelompok sebayanya, dan mengatakan bahwa melakukan perilaku berisiko tinggi merupakan kondisi yang mendatangkan rasa kenikmatan. Walaupun demikian, sebagian remaja juga menyatakan bahwa melakukan perbuatan yang berisiko sebenarnya merupakan cara mereka untuk mengurangi perasaan tidak nyaman dalam diri mereka untuk mengurangi rasa ketegangan. Dalam beberapa kasus perilaku berisiko tinggi ini berlanjut hingga individu mencapai usia dewasa.



F.     Kegagalan Pembentukan Identitas Diri
Menurut Piaget, awal masa remaja terjadi transformasi kognitif yang besar menuju cara berpikir yang lebih abstrak, konseptual, dan berorientasi ke masa depan. Remaja mulai menunjukan minat dan kemampuan di bidang tulisan, seni, musik, olahraga, dan keagamaan. Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya menyatakan bahwa tugas utama di masa remaja adalah membentuk identitas diri yang mantap yang didefinisikan sebagai kesadaran akan diri sendiri serta tujuan hidup yang lebih terarah. Mereka mulai belajar dan menyerap semua masalah yang ada dalam lingkungannya dan mulai menentukan pilihan yang terbaik untuk mereka seperti teman, minat, ataupun sekolah. Di lain pihak, kondisi ini justru seringkali memicu perseteruan dengan orangtua atau lingkungan yang tidak mengerti makna perkembangan di masa remaja dan tetap merasa bahwa mereka belum mampu serta memperlakukan mereka seperti anak yang lebih kecil. Secara perlahan, remaja mulai mencampurkan nilai-nilai moral yang beragam yang berasal dari berbagai sumber ke dalam nilai moral yang mereka anut, dengan demikian terbentuklah superego yang khas yang merupakan ciri khas bagi remaja tersebut sehingga terjawab pertanyaan siapakah aku? Dan kemanakah tujuan hidupku?  Bila terjadi kegagalan atau gangguan proses identitas diri ini maka terbentuklah kondisikebingungan peran (role confusion). Role confusion ini sering dinyatakan dalam bentuk negativisme seperti, menentang dan perasaan tidak percaya akan kemampuan diri sendiri. Negativisme ini merupakan suatu cara untuk mengekspresikan kemarahan akibat perasaan diri yang tidak kuat akibat dari gangguan dalam proses pembentukan identitas diri di masa remaja ini.

G.    Gangguan Perkembangan Moral
Moralitas adalah suatu konformitas terhadap standar, hak, dan kewajiban yang diterima secara bersama, apabila ada dua standar yang secara sosial diterima bersama tetapi saling konflik maka umumnya remaja mengambil keputusan untuk memilih apa yang sesuai berdasarkan hati nuraninya. Dalam pembentukan moralitasnya, remaja mengambil nilai etik dari orangtua dan agama dalam upaya mengendalikan perilakunya. Selain itu, mereka juga mengambil nilai apa yang terbaik bagi masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, penting bagi orangtua untuk memberi suri teladan yang baik dan bukan hanya menuntut remaja berperilaku baik, tetapi orangtua sendiri tidak berbuat demikian.
Secara moral, seseorang wajib menuruti standar moral yang ada namun sebatas bila hal itu tidak membahayakan kesahatan, bersifat manusiawi, serta berlandaskan hak asasi manusia. Dengan berakhirnya masa remaja dan memasuki usia dewasa, terbentuklah suatu konsep moralitas yang mantap dalam diri remaja. Jika pembentukan ini terganggu maka remaja dapat menunjukan berbagai pola perilaku antisosial dan perilaku menentang yang tentunya mengganggu interaksi remaja tersebut dengan lingkungannya, serta dapat memicu berbagai konflik.

H.    Stres di Masa Remaja
 Banyak hal dan kondisi yang dapat menimbulkan tekanan (stres) dalam masa remaja. Mereka berhadapan dengan berbagai perubahan yang sedang terjadi dalam dirinya maupun target perkembangan yang harus dicapai sesuai dengan usinya. Di pihak lain, mereka juga berhadapan dengan berbagai tantangan yang berkaitan dengan pubertas, perubahan peran sosial, dan lingkungan dalam usaha untuk mencapai kemandirian. Tantangan ini tentunya berpotensi untuk menimbulkan masalah perilaku dan memicu timbulnya tekanan yang nyata dalam kehidupan remaja jika mereka tidak mampu mengatasi kondisi tantangan tersebut. Penelitian menunjukan bahwa remaja merupakan masa ‘storm and stress’ sehingga memicu terjadinya gangguan depresi yang bermakna.

I.       Antisipasi dari Dampak Negatif Globalisasi
  • Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
  • Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai pancasila dengan sebaik-baiknya.
  • Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya.
  • Menumbuhkan kembangkan cara berpikir kritis. Karena hal tersebut menjadikan kita lebih selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
  • Mewujudkan supermasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar-benarnya dan seadil-adilnya.
Dengan adanya langkah-langkah antisipasi tersebut, diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa. Selain itu, kita bisa melihat dan mempertanyakan segala sesuatu yang secara logis tidak benar, sehingga kita tidak dapat diindoktrinasi untuk mengatur suatu pandangan tertentu saja. Sebaliknya kita dapat berpartisipasi untuk bersama menentukan cara mengatur dan mengelola sesuatu dengan segala resikonya.
























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keberhasilan remaja dalam proses pembentukan kepribadian yang wajar dan pembentukan kematangan diri membuat mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dan dalam kehidupannya saat ini dan juga masa mendatang. Untuk itu mereka seyogyanya mendapatkan asuhan dan pendidikan yang menunjang untuk berkembangannya self confidence, role anticipation, role experimentation, dan apprenticeship yang sudah dimulai sejak masa anak dan pra-remaja sehingga masa kritis yang dijumpai di  tahap perkembangan remaja ini dapat dilalui dengan mulus. Walaupun secara rasional selalu dapat dilakukan koreksi dan kompensasi terhadap defek perkembangan kepribadian dan masalah psikososial yang dihadapi, namun hal ini tentunya membutuhkan usaha yang lebih besar. Dengan demikian, lebih baik mencegah dengan memperkuat berbagai faktor protektif dan mengurangi sebanyak mungkin faktor risiko yang ada yang sudah dimulai sejak masa konsepsi hingga individu mencapai masa remaja.
B.     Saran
Arus globalisasi memang sudah sangat kuat mempengaruhi bangsa ini. Dan perubahan yang signifikan dapat kita lihat pada prilaku remaja yang akhir-akhir ini seperti berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika hal tersebut memberi efek baik bagi mereka tentu itu takkan jadi masalah. Tapi terkadang, sesuatu takkan bernilai baik apabila terletak di tangan yang salah. Oleh sebab itu, untuk menganggapi dan mengantisipasi dampak buruk yang dapat dibawa oleh globalisasi perlu ditanamkan sikap berikut :
  1. Selektif dalam memilih pergaulan karena bisa merubah mental anak remaja yang masih rentan.
  2. Dibutuhkan pengawan dari berbagai pihak dalam menannggulangi efek buruk yang akan timbul pada mental remaja.




DAFTAR PUSTAKA




















KATA PENGANTAR

Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena anugerah dan rahmat-Nya jualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, yang mana telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak ternilai dari semua pihak yang memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu dorongan yang positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menghimpun bahan materi untuk menyusun makalah ini.
Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyajian materinya maupun dari segi bahasanya. Karena itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif senantiasa penulis harapkan demi untuk melengkapi dan menyempurnakan makalah ini.



















DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.    Tujuan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Mental Generasi Muda
B.     Perkembangan Psikososial pada Remaja
C.    Perubahan Psikoseksual
D.    Pengaruh Teman Sebaya
E.     Perilaku Berisiko Tinggi
F.     Kegagalan Pembentukan Identitas Diri
G.    Gangguan Perkembangan Moral
H.    Stres di Masa Remaja
I.       Antisipasi dari Dampak Negatif Globalisasi
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA










MAKALAH PENJAS
TENTANG MEMBANGUN MENTAL GENERASI OLAHRAGA

DISUSUN OLEH :
NAMA : KHALISMIA RIZKI
PRODI : PENDIDIKAN EKONOMI
KELAS : I B





UNIVERSIRTAS HAMZAN WADI
TP. 2017/2018






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA SEBAGAI PROSES PENGUATAN MENTAL ANTI KORUPSI

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Beberapa negara di Asia memiliki beragam istilah tentang korupsi. Di China, Hong Kong dan T...