Rabu, 18 Januari 2017

MAKALAH BENTUK-BENTUK MUKA BUMI



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Belasan ribu pulau tersebar di seluruh wilayah Indonesia, baik yang berukuran besar maupun kecil. Jumlah pulau di wilayah Indonesia seluruhnya mencapai 13.466 pulau. Luas wilayahnya mencapai 5.180.053 km2, terdiri dari daratan seluas 1.922.570 km2 dan lautan seluas 3.257.483 km2. Ini berarti wilayah lautannya tiga kali lebih luas daripada wilayah daratannya.
Jika kita perhatikan keadaan pulau-pulau di Indonesia, tampak adanya berbagai macam bentuk muka bumi. Bentuk muka bumi pada umumnya, dan Indonesia pada khususnya dapat dibedakan menjadi (1) dataran rendah, (2) dataran tinggi, (3) bukit, (4) gunung, dan (5) pegunungan. peta fisiografi Indonesia berikut ini memperlihatkan sebaran dari bentuk muka bumi di bumi Indonesia.
B.     Rumusan Masalah
1.      Uraikan bentuk muka bumi akibat vulkanisme !
2.      Uraikan bentuk muka bumi akibat seisme !
3.      Uraikan bentuk muka bumi akibat diatropisme !
C.     Tujuan
1.      Menguraikan bentuk muka bumi akibat vulkanisme !
2.      Menguraikan bentuk muka bumi akibat seisme !
3.      Menguraikan bentuk muka bumi akibat diatropisme !










BAB II
PEMBAHASAN

A.     Bentuk Muka Bumi Akibat Vulkanisme
Bentuk Muka Bumi Akibat Tenaga Vulkanik
Gejala vulkanik terjadi karena penyusupan magma. Aktivitas magma tersebut mampu mengubah bentuk muka Bumi menjadi berbagai bentuk, sekaligus memengaruhi kehidupan manusia. Salah satu akibat kegiatan vulkanik adalah gunung api, yang mempunyai bentuk kerucut. Pada sisi lerengnya terdapat jurang-jurang yang merupakan jalan air atau lava menuju lembah. Kebanyakan gunung di Indonesia berupa gunung api.
1.      Aktivitas Magma
Gunung api terbentuk oleh proses intrusi dan ekstrusi magma dari lapisan dalam kulit Bumi. Setelah sampai di permukaan Bumi, magma pijar yang keluar kemudian membeku dan membentuk timbunan. Magma keluar melalui proses letusan atau erupsi gunung api. Apabila erupsi sering terjadi, magma akan membentuk lapis-lapis timbunan yang membuat gunung api bertambah semakin tinggi.
1)      Intrusi Magma
Magma dari dalam Bumi dapat mengalir menyusup di antara lapisan batuan tetapi tidak mencapai permukaan Bumi. Setelah membeku, penyusupan magma ini membentuk kenampakan sebagai berikut.
a)      Batolit adalah batuan beku yang terbentuk di dalam dapur magma.
b)      Lakolit adalah batuan beku yang terjadi pada dua lapisan litosfer dan bentuknya menyerupai lensa cembung.
c)      Sills adalah sisipan magma yang membeku pada dua lapisan litosfer berbentuk tipis dan lebar.
d)      Diatrema adalah batuan hasil intrusi magma yang memotong lapisan litosfer.
2)      Ekstrusi Magma
Ekstrusi magma terjadi bila magma keluar ke permukaan Bumi akibat tekanan dari dalam Bumi. Aktivitas ini bisa menimbulkan letusan (erupsi) pada gunung api. Dilihat dari bentuk lubang keluarnya magma, terdapat tiga macam erupsi sebagai berikut.
a)      Erupsi Linier atau Erupsi 
Melalui Retakan Magma dari dapur magma mengalir menyusup keluar melalui retakan memanjang pada kulit Bumi. Akibat erupsi ini terbentuk deretan gunung api.
b)      Erupsi Areal
Magma yang keluar dan meleleh pada permukaan Bumi dapat terjadi karena letak dapur magma yang sangat dekat dengan permukaan Bumi. Akibat erupsi ini terbentuk kawah gunung api yang sangat luas.
c)      Erupsi Sentral
Erupsi sentral atau biasa kita kenal sebagai letusan gunung api terjadi karena keluarnya magma melalui sebuah lubang di permukaan Bumi hingga terbentuk gunung yang letaknya terpisah dengan gunung-gunung lainnya.
Proses erupsi sentral dapat membentuk tiga macam bentuk gunung api, yaitu:
(1)   Gunung Api Perisai (Tameng)
Gunung api ini terbentuk karena sifat magma yang keluar sangat encer dengan tekanan yang rendah, hampir tanpa letusan. Lereng gunung yang terbentuk menjadi sangat landai. Di Indonesia hampir tidak ada gunung yang berbentuk perisai, sehingga magma mudah mengalir ke segala arah. Sebagian besar gunung ini ada di Hawaii.
(2)   Gunung Api Maar
Bentuk gunung api maar seperti danau kering. Jenis letusan yang terjadi adalah jenis eksplosif sehingga membentuk lubang besar pada bagian puncak (kawah). Letusan gunung api seperti ini terjadi karena ukuran dapur magma kecil dan letaknya dangkal, sehingga letusan hanya terjadi satu kali kemudian mati. Contoh Danau Klakah di Lamongan dan Danau Eifel di Prancis.
Bentuk Muka Bumi Akibat Tenaga Vulkanik
Bentuk-bentuk gunung api hasil erupsi sentral

(3)   Gunung Api Strato
Gunung api ini terbentuk akibat terjadinya erupsi eksplosif dan erupsi efusif berselang-seling. Sebagian besar gunung api di alam ini merupakan gunung api strato.
Contoh: Gunung api Merapi, Merbabu, Semeru, dan Kelud di Indonesia, Gunung Fuji di Jepang, Gunung Vesuvius di Italia, serta Gunung Santo Helens dan Rainier di Amerika Serikat.
Supaya kamu dapat mengetahui perbedaan dari ketiga bentuk gunung api yang disebabkan erupsi sentral, amati gambar di samping ini.
Berdasarkan kekuatan letusan dan kandungan material yang dikeluarkan, erupsi gunung api dibagi menjadi dua, yaitu:
Jenis material yang dikeluarkan gunung api adalah:
a)      Material Padat (Efflata)
Material padat (efflata) terdiri atas:
(1)   Bom (batu-batu besar).
(2)   Terak (batu-batu yang tidak beraturan dan lebih kecil dari bom).
(3)   Lapili, berupa kerikil.
(4)   Pasir
(5)   Debu
(6)   Batu apung

Menurut asalnya, efflata dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1)    Efflata allogen, berasal dari batu-batu di sekitar kawah yang terlempar ketika terjadi letusan.
(2)    Efflata autogen (Pyroclastica), berasal dari magma itu sendiri.
b)      Material Cair
Bahan cair dari dapur magma akan mengalir keluar dari gunung api jika magma cair dari dalam Bumi meleleh keluar dari lubang kawah tanpa terhambat oleh sumbatan dan tidak terdapat sumbatan di puncaknya. Material cair yang keluar ini terdiri atas:
(1)    Lava, yaitu magma yang meleleh di luar pada lereng gunung api.
(2)    Lahar panas, yaitu campuran magma dan air, sehingga merupakan lumpur panas yang mengalir.
(3)    Lahar dingin, terbentuk dari efflata porus atau bahan padat di puncak gunung menjadi lumpur ketika turun hujan lebat dan mengalir pada lereng serta lembah. Contohnya, akibat letusan Gunung Merapi tahun 2006 yang lalu telah menghasilkan sekitar 6 juta meter kubik timbunan material yang akan membentuk aliran lahar dingin saat turun hujan.
c)      Material Gas atau Ekshalasi
Material gas atau ekshalasi terdiri atas:
(1)    Solfatar, berbentuk gas belerang (H2S).
(2)    Fumarol, berbentuk uap air (H2O).
(3)    Mofet, berbentuk gas asam arang (CO2). Gas ini berbahaya bagi kehidupan karena bersifat racun. Selain itu, sifatnya yang lebih berat dari oksigen menyebabkan gas ini lebih dekat dengan permukaan tanah sehingga mudah dihirup oleh makhluk hidup. Contohnya, gas CO2 yang keluar dari Gunung Dieng pada tahun 1979 telah membunuh 149 penduduk.


B.     Bentuk Bumi Akibat Seisme / Gempa
Hasil gambar untuk seisme
1.      Penggolongan Gempa
Mengenali dan mengetahui berbagai sifat bencana yang ditimbulkan merupakan hal yang harus dilakukan pertama kali dalam rangka mitigasi bencana. Beberapa kegiatan bencana alam seperti gempa, sulit sekali dicegah dan ditentukan kapan dan di mana lokasinya, tetapi pencegahan jatuhnya korban dapat dilakukan. Salah satu caranya adalah mengenali berbagai jenis gempa. 
1)      Berdasarkan kedalaman pusat gempa atau hiposentrum:
a)      Gempa dalam, jika hiposentrumnya terletak 300–700 km di bawah permukaan Bumi.
b)      Gempa intermidier, jika hiposentrumnya terletak 100–300 km di bawah permukaan Bumi.
c)      Gempa dangkal, jika hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan Bumi.
2)      Berdasarkan bentuk episentrumnya:
a)      Gempa linier, jika episentrum berbentuk garis. Contoh:
Gempa tektonik karena patahan.
b)      Gempa sentral, jika episentrumnya berbentuk titik. Contoh: Gempa vulkanik dan gempa runtuhan.
3)      Berdasarkan letak episentrumnya:
a)      Gempa daratan, jika episentrumnya di daratan.
b)      Gempa laut, jika episentrumnya di dasar laut.
4)      Berdasarkan jarak episentrumnya:
a)      Gempa setempat, jika jarak episentrum dan tempat gempa terasa sejauh kurang dari 1.000 km.
b)      Gempa jauh, jika jarak episentrumnya dan tempat gempa terasa sekitar 10.000 km.
c)      Gempa sangat jauh, jika jarak episentrum dengan tempat terasa lebih dari 10.000 km.
2.      Gempa di Indonesia
Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktivitas gempa bumi di Indonesia terbagi dalam enam daerah aktivitas:
1)      Daerah Sangat Aktif
Wilayah sangat aktif memungkinkan terjadinya gempa dengan kekuatan lebih dari 8 skala Richter. Meliputi wilayah Halmahera dan lepas pantai utara Papua.
2)      Daerah Aktif
Di wilayah ini kemungkinan gempa dengan kekuatan 8 sampai 7 skala Richter sering terjadi. Yaitu di lepas pantai barat Sumatra, Kepulauan Sunda, dan Sulawesi Barat.
3)      Daerah Lipatan dengan atau Tanpa Retakan
Gempa dengan kekuatan kurang dari 7 skala Richter bisa terjadi. Wilayah ini meliputi Sumatra, Kepulauan Sunda, dan Sulawesi Tengah.
4)      Daerah Lipatan dengan atau Tanpa Retakan
Gempa dengan kekuatan kurang dari 7 skala Richter mungkin terjadi. Wilayah ini meliputi pantai barat Sumatra, Jawa bagian utara, dan Kalimantan bagian timur.
5)      Daerah Gempa Kecil
Gempa dengan kekuatan kurang dari 5 skala Richter jarang terjadi. Wilayah ini meliputi pantai timur Sumatra.
6)      Daerah Stabil
Tidak ada catatan sejarah gempa di wilayah ini. Wilayah ini meliputi Kalimantan Tengah, Kalimantan bagian barat, serta pantai selatan Papua.
3.      Dampak Gempa
Seperti bahasan kita sebelumnya bahwa gempa merupakan salah satu tenaga endogen yang memengaruhi bentuk muka Bumi. Oleh karena itu, gempa berdampak langsung pada deformasi lapisan Bumi. Bentuk deformasi akan sangat tergantung pada arah dan kekuatan tenaga endogen itu sendiri. Di permukaan Bumi dampak gempa juga dipengaruhi oleh kekuatan gempa itu sendiri. 
Kerusakan berat timbul dari gempa berkekuatan tinggi. Banyak bangunan hancur, rata dengan tanah, korban pun banyak berjatuhan. Memang benar gempa tidak hanya memberikan dampak bagi lingkungan fisik, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat. Cobalah temukan dampak lain gempa terhadap kehidupan sosial.
Oleh karena dahsyatnya dampak yang diakibatkan oleh gempa, maka kejadian gempa digolongkan sebagai salah satu bencana yang harus diwaspadai karena dapat juga menyebabkan tsunami. Ya, gempa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya tsunami. Akan tetapi, tidak semua gempa menyebabkan tsunami.
Ada beberapa kondisi yang menyebabkan tsunami, antara lain gempa berkekuatan besar seperti yang terjadi di Aceh tahun 2004 (lebih besar 6 SR, pusat gempa berada di dasar laut dengan pusat gempa yang dangkal, dan adanya dislokasi kerak Bumi bawah laut). 
Gerakan vertikal pada kerak Bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang ada di atasnya. Pada akhirnya menyebabkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai akan menjadi gelombang besar yang disebut tsunami.
C.     Bentuk Muka Bumi Akibat Gejala Diastropisme
Hasil gambar untuk Diastropisme
1)      Diastropisme adalah proses pembentukan kembali kulit bumi melalui penampakan berupa patahan atau lipatan. Penampakan tersebut dapat terjadi akibat pengangkatan dalam waktu lama (epirogenesa) ataupun berlangsung agak cepat dan waktu yang relatif singkat (orogenesa).
2)      Patahan adalah perubahan posisi batuan akibat bekerjanya gaya endogen pada batas lempeng. Patahan bisa terbentuk saat terjadinya gerakan tektonik ataupun lama sesudah itu.
Patahan merupakan gejala yang sangat umum pada batuan, terutama pada batuan yang berlapis-lapis seperti batuan sedimen. Bidang patahan merupakan tempat-tempat yang lemah pada kerak bumi. Daerah patahan tidak hanya terdapat pada satu lokasi, tetapi dapat meliputi daerah yang luas. Daerah patahan yang luas disebut zona patahan.
Patahan yang terjadi di sepanjang kerak bumi yang mengalami pergerakan disebut sesar atau fault.
Sesar umumnya disebabkan oleh tiga macam gaya yang meliputi tekanan (compression), tegangan (tension), dan gesekan (shearing). Gaya-gaya penyebab sesar seringkali ditemukan di wilayah batas lempeng.
Berdasarkan penyebabnya, dikenal tiga macam sesar, yaitu sesar naik, sesar turun, dan sesar mendatar.
Sesar naik atau reverse fault disebabkan oleh gaya tekanan (compression stress). Gaya ini menyebabkan lempeng-lempeng pada kerak bumi saling bertumbukkan. Di daerah yang mengalami sesar naik, biasanya ditandai oleh adanya sabuk pegunungan. Sesar naik biasanya ditemukan disepanjang batas lempeng konvergen.
Sesar Turun atau normal fault disebabkan oleh gaya tegangan (tensional stress). Gaya ini mengakibatkan tertariknya kerak bumi kearah yang berlawanan. Didaerah yang mengalami sesar turun, biasanya ditandai dengan adanya lembah dan lereng yang curam atau punggung samudera. Sesar turun biasanya ditemukan di sepanjang batas lempeng divergen. Sesar turun terkadang ditemukan berpasangan. Pada sesar turun yang berpasangan, bagian lempeng yang berada antara dua sesar akan naik atau turun disebut terban (graben). Adapun bagian yang tetap disebut sembul (horst). Contoh sesar turun yang berpasangan terdapat di sesar Semangko (Sumatera), Lembah Rhien (Eropa), dan lembah curam afrika timur (Afrika).
clip_image002clip_image002
Sesar Mendatar atau strike-slip fault disebabkan oleh adanya gaya gesekan (shear stress). Gaya ini mengakibatkan lempeng-lempeng saling bergerak mendatar berlawanan arah. Sesar mendatar ditandai dengan adanya perpindahan tempat (relative displacement) secara horisontal. Sesar mendatar yang terkenal adalah sesar San Andreas di Kalifornia, Amerika Serikat.
3)      Lipatan adalah bengkokan yang terjadi pada lapisan batuan. Lipatan terjadi pada lapisan sedimen yang letaknya mendatar akibat tekanan-tekanan pada arah mendatar.
Lipatan umumnya terbentuk dari dua unsur dasar yaitu Sinklin dan Antiklin
Sinklin merupakan lipatan yang membentuk lembah (cekungan). Antiklin merupakan lipatan yang membentuk busur.
Jenis lipatan yang paling sederhana disebut monoklin, seperti yang terdapat di sebelah selatan Utah (Amerika Serikat). Lipatan yang kompleks, umunya terdiri atas gabungan beberapa sinklin dan antiklin.
Jenis-jenis lipatan dibedakan berdasarkan posisi unsur-unsur pembentukan lipatan (sinklin, antiklin, dan bidang simetri), secara umum dikenal lima jenis lipatan, yaitu lipatan tegak, lipatan miring, lipatan rebah sesar sungkup, lipatan rebah, dan lipatan isoklin. Posisi sebuah lipatan dapat diketahui dengan cara mengukur kemiringan serta sudut lipatan. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan kompas geologi.






























BAB III
KESIMPULAN

Gejala vulkanik terjadi karena penyusupan magma. Aktivitas magma tersebut mampu mengubah bentuk muka Bumi menjadi berbagai bentuk, sekaligus memengaruhi kehidupan manusia. Salah satu akibat kegiatan vulkanik adalah gunung api, yang mempunyai bentuk kerucut. Pada sisi lerengnya terdapat jurang-jurang yang merupakan jalan air atau lava menuju lembah. Kebanyakan gunung di Indonesia berupa gunung api.
Mengenali dan mengetahui berbagai sifat bencana yang ditimbulkan merupakan hal yang harus dilakukan pertama kali dalam rangka mitigasi bencana. Beberapa kegiatan bencana alam seperti gempa, sulit sekali dicegah dan ditentukan kapan dan di mana lokasinya, tetapi pencegahan jatuhnya korban dapat dilakukan. Salah satu caranya adalah mengenali berbagai jenis gempa
Diastropisme adalah proses pembentukan kembali kulit bumi melalui penampakan berupa patahan atau lipatan. Penampakan tersebut dapat terjadi akibat pengangkatan dalam waktu lama (epirogenesa) ataupun berlangsung agak cepat dan waktu yang relatif singkat (orogenesa).















DAFTAR PUSTAKA

http://sobatgeo.blogspot.co.id/2017/01/bentuk-muka-bumi-akibat-gejala.html
http://www.materisma.com/2015/01/bentuk-muka-bumi-akibat-tenaga-vulkanik.html


KATA PENGANTAR

Sembah sujud penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena anugerah dan rahmat-Nya jualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, yang mana telah memakan waktu dan pengorbanan yang tak ternilai dari semua pihak yang memberikan bantuannya, yang secara langsung merupakan suatu dorongan yang positif bagi penulis ketika menghadapi hambatan-hambatan dalam menghimpun bahan materi untuk menyusun makalah ini.
Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, baik dari segi penyajian materinya maupun dari segi bahasanya. Karena itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif senantiasa penulis harapkan demi untuk melengkapi dan menyempurnakan makalah ini.




DAFTAR ISI

KATA PENGATAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A.     Bentuk Muka Bumi Akibat Vulkanisme
B.     Bentuk Muka Bumi Akibat Seisme
C.     Bentuk Muka Bumi Akibat Diatropisme
BAB III KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA


MAKALAH
BENTUK MUKA BUMI AKIBAT
VULKANISME, SEISME DAN DIATROPISME










 









Disusun Oleh
Nama Kelompok


SMAN 2 MASBAGIK
2017

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar