Senin, 21 November 2016

MAKALAH URGENSI TURUNNYA AL-QUR'AN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Ssungguhnya merupakan nikmat Allah Swt yang terbesar adalah diutusnya Nabi Muhammad Saw dan diturunkanya al-Qur’an kepadanya untuk dijadikan petunjuk kepada manusia, mengajari dan mengingatkan mereka tentang segala yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat. Atas dasar inilah Allah Swt memuliakan umat Islam
Al-Qur’an adalah kalam Allah Swt baik huruf maupun maknanya dan dia bukan mahluk. Dari Allah Swt al-Qur’an berasal dan kepada-Nya dia akan kembali. Al-Qur’an sebagaimana ia di turunkan oleh Allah mempunyai keunggulan-keunggulan yang membuatnya istimewa dibandingkan kitab suci lainnya. Ia adalah kitab ilahi, kitab suci yang menjadi mukjizat, kitab yang memberikan penjelasan dan di mudahkan untuk di pahami, kitab suci yang dijamin pemeliharaan keauntetikannya, kitab suci bagi agama seluruhnya, kitab bagi seluruh zaman, dan kitab suci bagi seluruh manusia.
Al-Qur’an merupakan kitab yang universal untuk seluruh manusia, bahkan untuk bangsa jin,untuk memberikan kabar gembira dan peringatan kepada mereka. Ia juga bertujuan untuk menghubungkan manusia dengan Rabbnya agar manusia hanya menyembah-Nya dan bertakwa kepada-Nya dalam segala urusan.Al-Qur’an juga bertujuan untuk membersihkan jiwa manusia. Sebab jika jiwa itu tekah besih, niscaya baiklah seluruh masyarakat.Dan jika jiwa itu rusak, niscaya rusaklah masyarakaat seluruhnya.
1.2.Rumusan Masalah
Apa saja urgensi diturunkannya al-Qur’an bagi manusia dan kemanusiaan ?
1.3.Tujuan Penulisan
Mengetahui urgensi diturunkannya al-Qur’an bagi manusia dan kemanusiaan








BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Al-Qur’an Sebagai Petunjuk
Allah Swt menurunkan pesan-pesanya melalui al-Qur’an kepada manusia, untuk dijadikan pegangan dan pedoman, way of life, agar manusia sukses menjalankan hidup di dunia dan bahagia di akhirat nanti. Allah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikan Jibril alaihissalam, menggunakan bahasa Arab, dan di belahan bumi pilihan Allah Swt, yakni Makah al-Muqarramah dan Madinah al-Munawarah, sebagai umat yang juga terpanggil untuk menjalankan pesan-pesan Allah Swt, maka sudah wajib bagi kita menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman dalam hidup dan kehidupan, yakni memasyarakatkan isi, bacaan, dan mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT telah berfirman yang artinya “…Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, , petunjuk bagi mereka yang bertaqwa …”(QS.al-Baqarah : 1-2). Dan juga Allah telah berfirman di pertengahan surat al-Baqarah, (Beberapa hari yang telah dirtentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).”(QS.al-Baqarah:185)
Di awal surat al-Baqarah Allah telah berfirman al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa , sedangkan di tengah al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia , dan ini sifatnya umum baik bagi orang yang bertaqwa maupun yang tidak bertaqwa.adapun petunjuk bagi orang yang bertaqwa, mempunyai arti bahwa mereka mampu mengambil manfaat dan mengambil faedah dari al-Qu’ran itu, serta mereka mampu menjadikan cahaya al-Qur’an sebagai penerang bagi mereka.
 “Alif Laam Raa…(ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang yang di izinkan Tuhan,(yaitu) menuju jalan Tuhan yang maha perkasa lagi maha terpuji…”(QS:Ibrahim:1).
Dari ayat di atas, jelas bahwa fungsi al-Quran adalah untuk membebaskan manusia dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya terang-benderang.Pada ayat ini Allah SWT menyebutkan kegelapan menggunakan jamak mu’annas salim dari isim mufrad artinya kegelapan-kegelapan.Mengandung makna kegelapan di dunia ini banyak macam raga dan bentuk.Hal ini juga ditegaskan dalam beberapa tafsir, baik itu (at-Tabari), (Jalalain), (Ibnu Kasir), dan (al-Kurtubi) disebutkan bahwa makna kegelapan-kegelapan mempunyai makna, kekafiran, kebodohan, dan kesesatan.Sementara dalam ayat ini cahaya menggunakan isim mufrad tidak menggunakan bentuk jamak, itu membuktikan atau menunjukan bahwa cahaya itu satu, yakni cahaya iman, petunjuk dan hidayah Allah SWT.
Pada saat Nabi Muhammad SAW yang begitu semangat-semangatnya mempelajari al-Quran hingga malaikat Jibril alaihissalam belum menuntut, Nabi Muhammad SAW sudah menirukanya. Allah melarang Nabi Muhammad SAW, menurukan bacaan Jibril kalimat demi kalimat,sebelum malaikat Jibril alaihissalam membacakanya sampai selesai. Hal ini dilakukan agar Nabi Muhammad SAW benar-benar faham dan hafal ayat yang diturunkan.Artinya tanamkanlah kegemaean membaca al-Quran, pelajari secara bertahap, dan siapapun yang ingin mempelajarinya haruslah ada pembimbingnya, agar ketika terjadi kesalahan ada yang mengoreksinya.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Qiyamah ayat 16-21 yang artinya :”… Janganlah kamu gerakan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karna hendak cepat-cepat (menguasai)nya(16) Sesungguhnya atas tanggungan kalimah mengumpulkanya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (17). Apabila kami telah selesai membacakanya maka ikutilah bacaanya itu (18).Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan kalimah penjelasanya (19).Sekali-kali jangan demikian, sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia (20).Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat (21)…” (QS;al-Qiyamah : 16-21)
Pada ayat diatas Allah Swt memerintahkan dengan fi’il amar maka ikutilah bacaan itu artinya, setelah gemar membaca dan mengamalkan al-Qur’an kita tidak hanya tinggal diam. Kita disuruh mengikuti al-Qur’an,mengikuti amalan syariat dan hokum-hukumnya, sesuai dengan kapasitas diri masing-masing. Pelestarian dan pengakulturasian nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupansehari-hari sangatlah penting. Dengan kecintaan membaca ayat-ayat al-Qur’an, merupakan akan lahir suatu motivasi untuk mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan terhadap al-Quran tidak lahir terhadap spontanitas, selain upaya yang sungguh-sungguh dari diri sendiri, keluarga dan para ulama dalam meningkatkan tulis baca al-Qur’an, namun yang tidak kalah pentingnya adalah faktor apresiasi dari pemerintah.Jikalau kita seorang pejabat, tiada salahnya membuat peraturan daerah yang berhubungan dengan al-Qur’an, misalnya setiap anak yang ingin melanjutkan studinya ketingkat SLTP atau SLTA hendaknya memiliki sertifikat tulis baca al-Quran. Dengan demikian, TPA-TPA yang ada disekitar kita tidak akan sepi seperti sekarang ini.
Jadi al-Quran merupakan petunjuk dialah dan irsyad (penjelas dan bimbingan) bagi seluruh manusia, dan petunjuk taufiq bagi orang yang bertaqwa, khususnya mereka yang memenuhi pnggilan al-Quran. Jadi hidayah itu ada dua macam yaitu hidayah taufiq wal ‘amal (respon dan aksi). Ini khusus bagi yang beriman , dan hidayanh dialah wa irsyad (bimbingan dan penjelas )yang bersifat informatif bagin seluruh umat manusia.
Allah SWT juga befirman yang artinya, sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus, dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang mu’min yang mengerjakan amal-amal soleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, dan sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, kami sediakan bagi mereka azab yang pedih,”(QS. Al Israa:9-10). Allah SWT menyebutkan al-Quran sebagai petunjuk yang paling lurus (aqwam), yaitu kepada jalan yang paling lurus dan adil yang mengantarkan kepada Allah SWT. JIka kita menghendaki untuk sampai  kepada Allah Azza wa Jalla dan surga-Nya maka kita harus berama dengan al-Quran Karim
Petunjuk al-Quran itu ada dua macam.Pertama, petunjuk berupa larangan, perintah dan berita baik.Kedua, petunjuk bagaimana mengambil manfaat dari landasan yang dikenal. Bgian pertama, bahwa sebagian besar petunjuk yang terdapat di dalam al-Quran itu terkait dengan masalah-masalah kebaikan , termauk masalah hukum.Sedangkan bagian kedua, inilah yang akan kita bahas kali ini. Allag Swt mengajak mahluk-Nya dalam banyak ayat untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi, serta isinya.Allah Swt menjelaskan, bahwa Dia menundukan langit dan bumi itu untuk kepentingan manusia. Allah Swt mengingatkan orang-orang yang memiliki akal untuk menggunakanya, dengan memikirkan apa-apa yang ada di langit dan di bumi,kemudian mengeksplorasi kekayaan yang ada di dalamnya. Jika kita memikirkan apa yang ada didalam keduanya, melihat fenomena dan keteraturan yang ada padanya, untuk apa ini semua diciptakan dan manfaat apa yang terkandung didalamnya, niscaya kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari semua ini. Yaitu, pertama kita dapat melihat bukti nyata kesempurnaan dan keagungan yang dimiliki oleh Allah Swt. Sedangkan yang kedua, kita vdapat memikirkan fenomena-fenomena alam kemudian menggali manfaat yang ada didalamnya. Allah Swt telah menundukan alam semesta kepada manusia , lalu menyerahkan seluruhnya kepada manusia agar manusia dapat menggali manfaat yang amat sangat besar di dalamya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Semua ini Allah Swt beritqahukan kepada manusia, agar mereka semua bisa mengambil menfaat dan dapat mengingat pencipta di balik semua penciptaan ini.Allah Swt memaparkan jalan yang penuh petunjuk agar manusia mengikutinya, dan juga menggambarkan jalan kesesatan agar mereka semua dapat menghindar darinya.
2.2.Al-Qur’an Sebagai Pembeda
Allah Swt juga menyifati al-Qur’an sebagai Furqaan (pembeda) sebagaimana firmanya :
“…Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (yaitu al-Qur’an) kepada hamba-hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam…” (QS. Al-Furqaan:1) Artinya al-Qur’an membedakan antara yang hak dengan yang batil, antara yang lurus dengan yang sesat, yang bermanfaat dengan yang berbahaya. Dia menyuruh kita untuk berbuat kebaikan dan melarang kita untuk berbuat yang buruk dan dia memperlihatkan segala apa yang kita butuhkan untuk urusan di dunia maupun di akhirat kekal, maka dia adalah Furqaan dalam arti membedakan antara yang hak dengan yang batil.
Al-Qur’an juga menetapkan hak-hak manusia, al-Qur’an menegaskan kemulian manusia atau yang didengungkan oleh manusia pada era kontemporer ini sebagai hak-hak asasi manusia (HAM) semenjak empat belas abad lalu.Sementara orang yang jahil menyangkanya sebagai pencapaian zaman modern.
Hak-hak manusia yang dijamin oleh Al-qur’an itu dapat kita lihat pada beberapa firman Allah berikut ini
1.      Hak berfikir, meneliti, dan mengkaji dengan bebas.
“Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi...”(Yunus: 101)
2.      Hak menentukan keyakinan.
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam)...”(al-Baqarah: 256)
3.      Hak berekspresi, memberi perintah, dan mengeluarkan larangan.
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar...” (at-Taubah: 71)
4.      Persamaan dengan manusia lainnya yang berbeda ras, warna kulit, dan keturunan.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki san seorang rezeki yang baik dari Allahperempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwadi antara kamu..”(al-Hujurat: 13)
5.      Hak untuk menikmati rezeki yang baik dari Allah SWT.
“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik...?” (al-A’raf: 32)
6.      Hak untuk menikah dan membina rumah tangga.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepada-Nya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(ar-Rum: 21)
7.      Hak untuk melahirkan keturunan.
“Allah menjadikan kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu...”(an-Nahl: 72)
8.      Hak untuk hidup.
Islam memberikan hak kepada manusia untuk hidup.Itulah sebabnya Al-qur’an sangat mempersalahkan orang-orang jahiliyah yang mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka, dan membunuh anak-anak mereka karena takut kelaparan.Al-qur’am menilai hal itu sebagai kesalahan dan dosa yang amat besar. Allah SWT berfirman,
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada merekn dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”(al-Isra: 31)
9.      Hak untuk hidup selama tidak melakukan kejahatan.
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu sebab yang benar.”(al-An’am: 51 dan al-Isra: 33)
10.  Hak untuk bekerja dan bepergian.
“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (al-Mulk: 15)
2.3.Al-Qur’an Sebagai Obat Penawar
Allah Swt juga menyebutkan al-Qur’an sebagai Syifa’ (obat penawar) Allah Swt berfirman artinya :“…Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman….” (QS. Yunus :57)
Dia obat bagi penyakit mereka yang bersifat hakiki (yang menimpa badan) dan penyakit yang bersifat maknawi (yang menimpa hati). Merupakan obat yang menimpa badan, dengan cara membacakanya untul orang yang sakit atu terkena ain (hinotis), kesurupan jin dan semisalnya. Dengan seizing Allah Swt orang yang sakit akan menjadi sembuh jika bacaan tersebut berasal dari hati seorang mukmin yang yakin kepada-Nya. Apabila keyakinan yang kuat berkumpul antara orang yang membacakanya dengan yang dibacakan untuknya maka Allah Swt memberikan kesembuhan bagi yang si sakit.
Al-Qur’an juga merupakan obat bagi penyakit maknawi, seperti penyakit ragu-ragu (syak), syubhat (keracunan), kufur dan nafik.Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit-penyakit badan.Penyakit hati lebih berbahaya dari penyakit badan karna penyakit badan ujung penghabiskanya adalah mati sedangkan mati itu pasti terjadi dan tidak mungkin dapat di tolak. Penyakit hati apabila dibiarkan terus-menerus maka akan menyebabkan matinya hati, rusak secara total sehingga hati condong kepada keburukan, fasik dan tidak ada obat baginya keciali al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah Swt sebagai obat penawar.
2.4.Membersihkan Jiwa Manusia
Diantara tujuan di turunkannya Alqur’an adalah membersihkan jiwa manusia.Jiwa mempunyai fitrah untuk menjadi kotor apabila manusia melakukan kejahatan. Namun, jiwa juga siap membawa manusianya untuk bertaqwa  dengan cara ia senantiasa di bersihkan dan di sucikan. Manusia dengan akal dan kemauannya harus memilih jalan bagi jiwanya ke jalan yang bersih atau kejalan yang kotor.
Tazkiah ‘pembersihan’ bersal dari kata zaka-yazku-zakatan.Ia adalah kata yang mengandung dua makna atau dua unsur, yaitu pemebrsihan dan pertumbuhan.
Oleh karena itu, tugas Nabi saw. Terhadap bangsa arab ada dua. Pertama, membersihkan akal mereka dari kemusyrikan dan kebatilan, membersihkan hati mereka dari kekerasan jahiliah, membersihkan keinginan mereka dari syahwat binatang, dan membersihkan mereka dari perbuatan-perbuatan kotor.
Kedua, mengembangkan akal mereka dengan ilmu pengtahuan dan hati mereka dengan keimanan sehingga kehendak hati mereka menngarah pada amal sholeh, kebaikan , dan akhlak mulia.
Inilah yang dilakukan oleh nabi saw. Beliau mengajarkan bengsa arab Al-qur’an dan hikmah, membersihkan jiwa sehingga mereka dapat menghancurkan dari dalam diri mereka pemikiran-pemikiran paganisme dan penyelewengan jahiliah, dan membangun  keutamaan keimanan. Sehingga mereka benar-benar menjadi umat yang terbaik
 “kamu adalah umat yang terbaik yang di lahirkan untuk manusia...”. (Ali Imron:110)  Pembersihan jiwa hanya dapat terlaksana berkat anugrah dari Allah SWT dan taufik-Nya. Seperti firman Allah SWT
 “... Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya...” (an-Nur:21)
Hal yang tidak dapat diragukan adalah bahwa kebaikan umat dan bangsanya ditentukan oleh kebaikan individu-individunya.Dan, kebaikan individu-individu itu ditentukan oleh kebaikan jiwanya. Dengan kata lain, dengan memebrsihkan jiwa maka jiwa mereka akan berubah dari nafsu ammarah bissuu ‘jiwa yang memerintahkan untuk berbuat jahat’ kepada an nafsul lawwamah‘ jiwa yang mendorong untuk dan mencela dari keburukan ‘, dan kemudian menjadi an nafsul muthmainnah ‘jiwa yang tenang’.
2.5.Meluruskan Aqidah dan Kepercayaan
1.      Membentuk Dasar-Dasar Tauhid
Al-qur’an mengatakan bahwa kemusyrikan merupakan dosa yang paling besar yang dilakukan oleh manusia karena dalam kemusyrikan itu terkansung penzhaliman terhadap hakikat, pemalsuan fakta, dan menurunkan manusia dari tingkat penguasa dunia-seperti dikehendaki Allah SWT-ketingkat perbudakan dan ketundukan kepada makhluk biasa; baik makhluk itu benda mati, pepohonan, hewan, manusia, atau yang lainnya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman,.
 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengamouni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya...”(an-Nisa : 48)
Karena kemusyrikan adalah sarang kebatilan dan khufarat, maka Al-qur’an mengajak untuk menyembah Allah SWT semata, dan mendeklarasikannya sebagai prinsip utama bersama risalah para nabi seluruhnya.Seluruh nabi mengajak kaumnya untuk menyembah Allah.
Dakwah tauhid adalah pokok kebebasan yang sebenarnya karena orang yang menyakralkan dan menyucikan manusia atau menyembah batu, sama sekali tidak mempunyai kebebasan.
Ia adalah pokok persaudaraan dan persamaan karena ia berdiri di atas keyakinan bahwa manusia seluruhnya adalah hamba Allah SWT, dan mereka adalah anak-anak dari bapak dan ibu yang satu. Mereka bersaudara satu sama lain, dan satu orang tidak menjadi tuhan bagi yang lainnya.
Al-qur’an dari awal hingga akhir adalah ajakan kepada tauhid, mengingkari kemusyrikan, menjelaskan balasan yang baik bagi orang yang bertauhid di dunia dan di akhirat, dan alasan yang buruk bagi orang-orang yang musyrik di dunia dan di akhirat.
2.      Meluruskan Akidah tentang Kenabian dan Risalah
Meluruskan akidah tentang kenabian dan risalahnya di lakukan dengan metode berikut.
1.      Menjelaskan  kebutuhan manusia kepada kenabian dan risalah kenabian.
2.      Menjelaskan tugas para rosul dalam memberikan kabar gembira dan ancaman Tuhan
“(mereka kami utus) selaku rosul-rosul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan...”(an-nisa’:165)Dan para Rosul bukanlah tuhan-tuhan atau anak-anak tuhan namun mereka hanyalah meanusia-manusia yang di berikan wahyu.
            Para nabi dapat mengajak manusia untuk tidak manyekutukan Allah SWT, namun mereka mempunyai wewenang untuk memberikan hidayah kedalam hati manusia serta tidak pula dapat menguasai hati mereka.
“maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi eringatan. Kamu bukanlah otrang yang berkuasa atas mereka”.(al ghasiyah:21-22)
3.      Menjawab tuduhan-tuduhan yang dilontarkan manusia dari dahulu tentang keberadaan rosul, seperti ucapan mereka,
“...kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga..”(Ibrahim:10)
3.      Al-qur’an menjawab tuduhan-tuduhan mereka itu denganfirman Allah.[6]
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka,”kami tadak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya...” (Ibrahim:11)Menjelaskan balasan-balasan orang-orang yang membenarkan para rosul dan akibat yang dirasakan oleh orang-orang yang mendustakan mereka.Banyak sekalimkisah para rosul bersama umat mereka, yang selalu berakhir dengan kebinasaan orang-orang mendustakan mereka da keselamatan bagi kalangan yang beriman
“Kemudian Kami selamatkan rosul-rosul Kami dan oarang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Yunus:103)
4.      Menguatkan Akidah Keimanan tentang Akhirat dan Balasan Amal Perbuatan.
Perbuatan yang diberikan perhatian Al-qur’an dan diulang-ulang dalam surat-surat Makiyah dan Madaniyah adalah keimanan terhadap akhirat dan balasan yang akan didapatkan terhadap amal perbuatan manusia, perhitungan amal perbuatan itu, serta surga dan neraka.
Dalam menetapkan akidah ini dan pelurusannya, Al-qur’an menggunakan berbagai cara.[7]
1.       Memberikan dalil-dalil tentang kebangkitan manusia dengan menjelaskan kekuasaan Allah SWT untuk mengembalikan penciptaan makhluk sebagaimana pertama kali dicptakan.
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu lebih mudah bagi-Nya...(ar-Rum:27)
2.       Mengingatkan tentang penciptaan benda-benda besar yang jika dibandingkan penciptaan semua itu dengan penciptaan manusia , maka penciptaan manusia adalah hal yang sangat mudah dan sederhana.
3.       Menjelaskan hikmah Allah SWT dalam memberikan balasan terhadap amal perbuatan manusia, sehingga orang yang berbuat baik (shaleh) pada akhirnya tidak sama nasibnya dengan orang yang  berbuat jahat. Jika tidak ada balasan itu, maka kehidupan ini menjadi sia-sia dan tak berharga .Allah SWT tidak menciptakan dunia ini untuk kesia-siaan.
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”(al-Mu’minun: 115)
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”(al-Qiyamah:36)
4.       Menjelaskan balasan baik dan keridhaan yang menunggu kaum mukminin di akhirat kelak nanti, serta kerugian dan siksa yang menanti orang-orang yang kafir. Oleh karena itu, Al-qur’an banyak berbicara tentang hari kiamat dan kepedihannya, tentang catatan amal perbuatan yang tidak sedikitpun meninggalkan catatan atas perbuatan manusia, yang besar maupun yang kecil, tentang neraca penimbang kebaikan dan keburukan manusia, sehingga tidak ada yang tercecer sedikit pun dari amal manusia, walaupun sebesar atom. Al-qur’an juga membicarakan tentang penghitungan yang amat teliti yang tidak menzhalimi siapapun sehingga satu orang tidak menanggung dosa orang lain. Membicarakan tentang surga dan apa yang disediakan didalamnya, dari berbagai kenikmatan materi dan ruhani, juga tentang neraka dan isinya dari bermacam azab yang pedih, baik indrawi maupun maknawi. Sebab manusia di akhirat nanti adalah juga manusia ynag pernah hidup di dunia.Oleh karena itu, balasan dan siksaan harus mencakup kedua hal itu, indrawi dan maknawi.
Membatalkan khayalan yang dihasilkan kemusyrikan dan orang-orang musyrik; bahwa tuhan-tuhan mereka itu akan memberikan bantuan kepada mereka di hadapan Allah SWT pada hari kiamat nanti. Demikian juga yang dipercayai oleh kalangan Ahli Kitab  terhadap bantuan orang-orang suci mereka dan lainnya. Ini semua ditolak oleh Al-qur’an dan dibatalkannya dengan amat keras.Tidak ada syafaat kecuali dengan izin Allah SWT, dan syafaat itu hanya diberikan kepada individu mukminyang bertauhid.Manusia hanya diberikan manfaat oleh amal perbuatannya.Ia juga tidak menanggung dosa orang lain, seperti firman Allah:
 “Orang-orang yang zalim tidajk mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunya pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.”(al-Mu’min: 18)
“Tiada yang dapat memberi syafaat disisi Allah tanpa izin-Nya...”(al-Baqoroh: 255)
2.6.Al-Quran Sebagai Sumber Dari Segala Sumber Hokum Islam
Al-Quran juga berfungsi sebagai sumber segala macam aturan tentang hokum, social, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, moral dan sebagainya yang harus dijadikan way of life bagi semua umat manusia untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya. Sebagai hakim yang diberi wewenang oleh tuhan memberikan keputusan terakhir mengenai beberapa masalah yang diperselisihkan dikalangan pemimpin-pemimpin agama dari berrmacam-macam agama dan sekaligus sebagai korektor yang mengoreksi kepercayaan-kepercayaan/pandangan-pandangan yang salah di kalangan umat beragama, termasuk kepercayaan-kepercayaan yang salah yang terdapat di dalam kitab lain yang dipandang suci oleh pemeluknya.
Ajaran-ajaran atau anggapan-anggapan dari agama lain yang salah kemudia di koreksi al-Qur’an antara lain sebagai berikut :

1.      Ajaran trinitas dalam Byble
2.      Kepercayaan bangsa Arab pada masa pra-Islam yang mempunyai anggapan bahwa Tuhan memiliki anak-anak perempuan yaitu para malaikat (surat al-Najm: 27)
3.      Sejumlah Nabi-Nabi dan Rasul yang terhormat dan merupakan manusia pilihan Allah Swt yang di jadika sauri tauladan bagi umatnya, di ungkapkan dalam Byble sebagai orang-orang yang melakukan perbuatan hina dan tercela. Misalnya Nabi Ibrahim digambarkan sebagai orang yang pendusta atau pembohong.Nabi Luth diungkapkan sebagai orang yang pernah berbuat sexs dengan putri-putrinya.Nabi daud diceritakan sebagai orang yang bermain serong dengan istri Uria. Nabi Sulaiman digambarkan sebagai orang yang pernah menyembah berhala ubtuk menyenangkan isteri-isterinya
Menurut pandangan Islam, bahwa Nabi dan Rasul adalah ma’sum, artinya mereka pasti terhindar dan terprlihara dari perbuatan-perbuatan yang hina dan tercela, seperti berdusta, berzina, dan menyembah berhala.
Al-Qur’an juga sebagai pengukuh dan penguat yang mengukuhkan dan menguatkan kebenaran adanya kitab-kitab suci yang pernah diturunkan sebelum al-Qur’an dan kebenaran adanya Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad Saw.Hanya saja ajaran-ajaran dari para Nabi sebelum nabi Muhammad Saw beserta kitab-kitab sucinya sudah tidak orisinil lagi, sebab tidak sedikit yang telah diubah oleh pemimpin mereka.[8]
















BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Jadi fungsi al-Qur’an bagi manusia dan kemanusiaan adalah sebagai berikut :
1.      Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk
2.      Al-Qur’an berfungsi sebagai pembeda antara yang hak dengan yang batil
3.      Al-Qur’an berfungsi sebagai obat penawar bagi manusia (as-Syifa’)
4.      Al-Qur’an berfungsi membersihkan jiwa manusia
5.      Al-Qur’an berfungsi untuk meluruskan aqidah dan kepercayaan
6.      Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber dari segala sumber hokum Islam
3.2.Saran
Penulisan makalah ini tentulah banyak sekali kekurangannya, sehingga diharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun baik dari dosen mata kuliah Study Qur’an maupun dari rekan-rekan mahasiswa.



















DAFTAR PUSTAKA

Ø  Al-Qaradhawi yusuf, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, Gema Insani Press.
Ø  Syaikh Abdurrahman As-Sa’id, Bacalah Al-Qur’an Seolah-Olah Ia Diturunkan Kepadamu, Hikmah Production
Ø  Drs. Masjfuk zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an, PT Bina Ilmu


[1] Yusuf Al-Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, hal.8
[2] Syaikh Abdurrahman As-Sa’id, Bacalah Al-Qur’an Seolah-Olah Ia Diturunkan Kepadamu, hal 10-11
[3] Yusuf Al-Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, hal. 118-124
[4] Yusuf Al-Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, hal.109-111
[5] Yusuf Al-Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, hal.111-113

[7] Yusuf Al-Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur’an, hal.113-115
[8] Drs. Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an, hal 22-23






KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah.. Puji syukur kehadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan hidayah-Nya. Segala pujian hanya layak kita aturkan kepada Allah SWT. Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta petunjuk-Nya yang sungguh tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang penulis beri judul ”URGENSI TURUNNYA AL-QUR’AN BAGI MANUSIA DAN KEMANUSIAAN”.
Dalam penyusuna makalah ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan rasa berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada mereka, kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, moril, dan kepercayaan yang sangat berarti bagi penulis.
Berkat dukungan mereka semua kesuksesan ini dimulai, dan semoga semua ini bisa memberikan sebuah nilai kebahagiaan dan menjadi bahan tuntunan kearah yang lebih baik lagi. Penulis tentunya berharap isi makalah ini tidak meninggalkan celah, berupa kekurangan atau kesalahan, namun kemungkinan akan selalu tersisa kekurangan yang tidak disadari oleh penulis.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penulis mengharapkan agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.












DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
1.2.  Rumusan Masalah
1.3.  Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1.Al-Qur’an Sebagai Petunjuk
2.2.Al-Qur’an Sebagai Pembeda
2.3.Al-Qur’an Sebagai Obat Penawar
2.4.Membersihkan Jiwa Manusia
2.5.Meluruskan Aqidah dan Kepercayaan
2.6.Al-Quran Sebagai Sumber Dari Segala Sumber Hokum Islam
BAB III PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
3.2.  Saran
DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar